Sabtu, 28 Mei 2016

Media Pembelajaran

Teori Konstruktivisme



Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana pesrta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-idea baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky,1992).
Dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut peserta didik diharuskan mempunyai dasar bagaimana membuat hipotesis dan mempunyai kemampuan untuk mengujinya, menyelesaikan persoalan, mencari jawaban dari persoalan yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan ide dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru.
Berkaitan dengan konstruktivisme, terdapat dua teori belajar yang dikaji dan dikembangkan oleh Jean Piaget dan Vygotsky, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

* Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Proses mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:

  • Skemata. Sekumpulan konsep yang digunakan  ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan skemata. Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan sekema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
  • Asimilasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.
  • Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
  • Keseimbangan. Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.
* Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky

Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah, dengan demikian  perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem  komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini  untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri.
Menurut Slavin  (Ratumanan, 2004:49)  ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, dikehendakinya setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding, semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.
a.    Pengelolaan pembelajaran
Interaksi sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
b.    Pemberian bimbingan
Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain.
Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.


 Dikatakan juga bahwa pembelajaran yang memenuhi metode konstruktivis hendaknya memenuhi beberapa prinsip, yaitu: a) menyediakan pengalaman belajar yang menjadikan peserta didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan; b) pembelajaran dilaksanakan dengan mengkaitkan kepada kehidupan nyata; c) pembelajaran dilakukan dengan mengkaitkan kepada kenyataan yang sesuai; d) memotivasi peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran; e) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada kehidupan social peserta didik; f) pembelajaran menggunakan barbagia sarana; g) melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik (Knuth & Cunningham,1996).

Minggu, 22 Mei 2016

Pembelajaran Jarak Jauh



BAB I
PENDAHULUAN
Konsep dasar pendidikan jarak jauh adalah cukup sederhana siswa dan guru terpisah oleh jarak dan waktu. Hal ini bertentangan dengan tutorial kuno, di mana guru dan pelajar individu bertemu di waktu dan tempat yang sama (karena mereka masih melakukan di Universitas Oxford dan Cambridge), dan model kontemporer lebih akrab instruksi di kelas, di mana guru berbicara kepada sekelompok pelajar, semua bersama-sama pada waktu yang sama di tempat yang sama.
Jika guru dan siswa tidak bersama-sama di tempat yang sama atau bersama-sama pada saat yang sama, mereka dipisahkan oleh jarak, dan sebagai hasilnya menjadi perlu untuk memperkenalkan media komunikasi buatan yang akan memberikan informasi dan juga menyediakan saluran untuk interaksi antara mereka.
Penggunaan teknologi cetak dan elektronik sebagai bentuk utama komunikasi adalah yang pertama dan paling jelas ciri yang membedakan pendidikan jarak jauh dari bentuk-bentuk lain dari pendidikan. Menggunakan teknologi seperti membuka berbagai cara baru yang menarik di mana instruktur dapat menyajikan informasi dan mereka melakukan interaksi dengan pelajar. Keberhasilan penggunaan teknologi komunikasi, bagaimanapun, memerlukan teknik desain khusus dan perencanaan lebih berhati-hati dan produksi dalam mengajar di kelas. Dipisahkan dari instruktur mereka, siswa yang belajar di kejauhan sering saran bersih dan konseling tentang masalah studi mereka. Selanjutnya, harus ditemukan cara untuk mengelola dan mengevaluasi baik pembelajaran dan pengajaran.
Kita harus berurusan dengan pertanyaan dari mana, kapan, dan bagaimana siswa akan belajar jika fasilitas kelas dan struktur yang ditemukan di ruang kelas tidak tersedia. Sebagai lembaga dan bahkan negara dan bangsa mulai berpikir bagaimana memperkenalkan pendidikan jarak jauh ke dalam sistem pendidikan yang ada, kebijakan baru harus dikembangkan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pendidikan Jarak Jauh
Menurut Moore (1996:2) Pendidikan jarak jauh adalah pembelajaran terencana yang terjadi di tempat yang berbeda dari pengajaran sehingga memerlukan teknik khusus seperti desain, teknik instruksional khusus, metode komunikasi khusus dengan teknologi elektronik lainnya, serta pengaturan organisasi dan administrasi khusus. Singkatnya, suatu metode pembelajaran dimana proses pengajaran terjadi secara terpisah dari proses belajar, sehingga komunikasi antara tenaga pengajar dan siswa harus difasilitasikan melalui bahan cetak, media elektronik, dan media-media lainnya
Karena pendidikan jarak jauh bertujuan untuk memberikan instruksi di tempat dan waktu yang nyaman bagi peserta didik dari guru atau lembaga pengajaran, banyak orang menggunakan istilah "pembelajaran jarak jauh" sebagai sinonim untuk pendidikan jarak jauh. Dapat dipahami bahwa ini tidak sepenuhnya akurat, pendidikan menjadi perhatian kita dalam pembelajaran yang disengaja dan direncanakan. Oleh karena itu dengan mengajar pembelajaran yang baik.

B.     Tingkat Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh ada di sejumlah tingkat yang berbeda. Untuk membantu kita memilah tingkat yang berbeda, kita akan menggunakan tipologi yang dikembangkan oleh Michael Mark (1990) dalam Moore (1996:2). Mark (yang memilih untuk menggunakan istilah "pembelajaran jarak jauh") membedakan empat tingkat ini:
1.      Program Pembelajaran Jarak Jauh
Ini adalah kegiatan yang dilakukan di sebuah perguruan tinggi konvensional, universitas, sistem sekolah, atau departemen pelatihan yang tanggung jawabnya meliputi instruksi kelas tradisional. Dalam beberapa tahun terakhir banyak fakultas telah memilih untuk mengajar kursus di luar kampus dengan cara audio atau video conference, dengan menambahkan para peserta didik jarak jauh untuk kelas konvensional. Hal ini biasanya terdiri dari satu guru bekerja sendirian, sebagai kontras dengan bekerja dengan tim dalam pendekatan sistem. Sebuah program pembelajaran jarak jauh biasanya tidak memiliki fakultas sendiri atau pelayanan administrasi.

2.      Unit Pembelajaran Jarak Jauh
Sebuah unit khusus dan terpisah dalam sistem perguruan tinggi, universitas, atau sekolah konvensional yang didedikasikan untuk  kegiatan belajar jarak jauh. unit tersebut biasanya akan memiliki staf administrasi yang tanggung jawab tunggal terhadap pendidikan jarak jauh; itu juga mungkin memiliki fakultas yang berdedikasi.

3.      Lembaga Pembelajaran Jarak Jauh
Satu-satunya tujuan dari lembaga pendidikan jarak jauh adalah. semua kegiatan secara eksklusif ditujukan untuk pendidikan jarak jauh. Institusi tersebut akan memiliki staf pengajar dan staf administrasi yang tugasnya berbeda dari orang-orang di sebuah perguruan tinggi tradisional, universitas, sistem sekolah, atau departemen pelatihan. British Open University adalah contoh yang terkenal di dunia dari Lembaga pembelajaran jarak jauh.

4.      Konsorsium Pembelajaran Jarak Jauh
Konsorsium biasanya terdiri dari dua atau lebih lembaga pembelajaran jarak jauh atau unit yang berbagi baik dalam desain atau penyampaian program, atau keduanya. National University Teleconference (NUTN) dan "Star Schools" adalah contoh dari konsorsium tersebut.

C.    Kursus dan Program
Kursus dihasilkan di semua tingkat pendidikan jarak jauh. Dalam kursus setidaknya telah ada tujuan, satu atau lebih guru, media komunikasi, dan konten atau subjek belajar. Program mengacu pada program audio atau televisi yang membentuk bagian dari kursus.

D.    Pendekatan Sistem
Sebuah sistem pendidikan jarak jauh terdiri dari semua proses komponen yang membentuk pendidikan jarak jauh, termasuk belajar, mengajar, komunikasi, desain, dan manajemen, dan komponen bahkan seperti sejarah dan filsafat institusional. Model sistem menyediakan alat yang tidak hanya membantu kita mengenali banyak isu yang memisahkan pendidikan jarak jauh dari pendidikan konvensional, tetapi juga membantu kita membedakan pendidikan jarak jauh baik dari yang buruk.

1.      Sistem dan Praktek
Pendekatan yang sistematis ini dapat dan harus diterapkan dalam pengembangan dan pengiriman setiap kursus. Ketika kursus pendidikan jarak jauh dikembangkan sebuah sistem, ada mekanisme kontrol yang memastikan bahwa semua proses komponen yang terintegrasi dengan baik dan berinteraksi satu sama lain. Kemudian kualitas akhir produk-yaitu, tentu saja-lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh salah satu kontributor komponen bertindak sendiri. Ketika pendekatan sistem yang diterapkan di tingkat organisasi, negara, atau bangsa, sebagian besar sumber daya pendidikan jarak jauh dari organisasi, negara, atau bangsa yang terintegrasi. Dalam sistem tersebut, setiap kursus direncanakan untuk memperhitungkan bagaimana dampak pada setiap kursus lain.




2.      Kebutuhan untuk Sistem
Kesalahan persepsi umum di antara pendidik yang tidak akrab dengan pendekatan sistem adalah bahwa mungkin untuk mendapatkan keuntungan dari memperkenalkan teknologi ke dalam pendidikan tanpa melakukan apa-apa untuk mengubah cara lain di mana pendidikan diorganisasikan. Mereka berpikir bahwa dengan memindahkan kamera, komputer, dan mikrofon ke dalam ruang kelas, sekolah, universitas, dan departemen pelatihan, mereka dapat meningkatkan pendaftaran, menyediakan kurikulum baru, dan menyimpan uang tanpa melakukan apa-apa lagi. Menurut pandangan ini, setelah teknologi ini tempat, ada sedikit lagi yang bisa dilakukan. Mereka memutuskan apa yang akan diajarkan, mempersiapkan pelajaran, dan berinteraksi dengan siswa melalui kamera, komputer, telepon, atau beberapa kombinasi dari ini.
Dalam kelas tradisional, guru secara individu mengembangkan dan menyelenggarakan sendiri. Mereka mencoba untuk menjadi komunikator yang efektif, desainer kurikulum, evaluator, motivator, fasilitator diskusi kelompok, serta ahli konten. Ini adalah penggunaan yang sangat boros sumber daya manusia, ketika isi dan tujuan dari begitu banyak program yang identik, dan menghasilkan variasi luas dalam kualitas pendidikan.
Tantangan terbesar yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah bagi legislator untuk mengembangkan kebijakan yang membutuhkan pengembangan pendekatan sistem total untuk pendidikan jarak jauh, untuk administrator untuk mendistribusikan sumber daya manusia dan modal ke dalam sistem total, dan bagi guru untuk dilatih untuk bekerja sebagai spesialis dalam seperti sebuah sistem.



E.     Komponen Sistem Pendidikan Jarak Jauh
Source         Design      Delivery      Interaction         Learning Environment








 







Gambar 1.1  Model Sistem Pendidikan Jarak Jauh
Gambar 1.1 menyajikan model sistem umum yang menggambarkan proses komponen utama dan unsur-unsur lembaga pendidikan jarak jauh, Program, Unit, konsorsium, atau kursus. Ini adalah komponen umum yang akan ditemukan di tingkat dan jenis pendidikan jarak jauh. Harus ada sumber pengetahuan keterampilan yang akan diajarkan dan dipelajari serta proses untuk mencari tahu apa yang perlu dipelajari siswa dan untuk memutuskan konten tertentu akan diajarkan. Harus ada satu subsistem yang mengatur desain kursus dan lain yang menyediakan layanan komunikasi untuk guru, peserta didik, dan administrator. Instruktur dan lain-lain berinteraksi dengan siswa untuk membantu proses pembelajaran. Tentu saja harus ada peserta didik dalam lingkungan belajar yang berbeda. Akhirnya, pada tingkat yang paling umum, harus ada sebuah organisasi dengan kebijakan dan struktur manajemen yang mengontrol dan mengelola berbagai bagian dari masing-masing subsistem tersebut.
Sekarang kita akan memeriksa setiap bagian dari sistem ini secara singkat, dan kami kemudian akan fokus pada masing-masing komponen.

1.      Konten Ahli dan Sumber lain dari Pengetahuan
Tanggung jawab untuk memutuskan pengetahuan apa akan diajarkan oleh sebuah organisasi (apakah itu sebuah universitas, perguruan tinggi, sekolah, atau departemen pelatihan dari perusahaan, pemerintah, atau lembaga sukarela) adalah bahwa organisasi dan fakultas-orang yang tahu bidangnya, yang sastra, teori, praktek kontemporer, dan masalah, Keputusan terang akan dibuat dalam misi pendidikan organisasi dan filsafat, tercermin dari filosofi guru, dan hal ini pada gilirannya akan ditentukan oleh sejarah organisasi dan sejarah pendidikan di negara di mana organisasi berada.
Bagi kebanyakan organisasi pendidikan jarak jauh juga penting untuk mengetahui apa yang siswa pengetahuan sendiri merasa mereka perlu, dan untuk mengembangkan program yang memperhitungkan apa yang mereka ingin belajar. Siswa juga dapat dianggap sebagai sumber potensial dan pencipta pengetahuan, dan program dapat merancang untuk mempekerjakan proyek dan kegiatan belajar mandiri lainnya. Tingkat yang organisasi pendidikan jarak jauh atau kursus mungkin menarik pada siswa, sumber pengetahuan akan dipengaruhi oleh filsafat pendidikan organisasi dan fakultas. Ada banyak ide yang berbeda tentang belajar dan mengajar, dan sebelum kita dapat memahami sebuah organisasi pendidikan atau kursus atau menganalisis mereka atau mengevaluasi mereka, perlu untuk menjadi jelas tentang apa filsafat yang sedang ditekankan atau ditaati.

2.      Desain Program
Para desainer instruksional harus bekerja dengan ahli dan bersama-sama menyepakati hal-hal seperti tujuan kursus, latihan dan kegiatan peserta didik akan melakukan, tata letak bahan tekstual, isi kaset rekaman audio atau video, dan pertanyaan untuk sesi interaktif dengan audio-video, atau konferensi komputer. Grafis desainer, produsen, dan spesialis media lainnya harus dibawa untuk mengubah ide-ide dari para pakar dan desainer instruksional menjadi bahan kursus-kualitas yang baik dan program. Keputusan harus dibuat tentang bagian mana dari instruksi dapat paling efektif disampaikan oleh masing-masing media tertentu.

3.      Komunikasi Informasi dan Interaksi melalui Teknologi
Dalam pendidikan harus ada komunikasi antara guru atau tim pengajar, dan pelajar atau peserta didik. Dalam pendidikan jarak jauh komunikasi ini terjadi melalui beberapa bentuk teknologi. Teknologi ini dapat menghasilkan media cetak (terutama buku dan panduan belajar) atau program pada audio atau kaset video, radio atau televisi siaran, perangkat lunak komputer, audio, audio-grafik atau videoconference, atau jaringan komputer. Penggunaan teknologi untuk membawa pesan dari guru dan siswa.

4.      Membedakan Teknologi dan Media
Teknologi termasuk sistem radio dan siaran televisi, telepon, satelit, kabel, dan jaringan komputer. Apa didistribusikan melalui teknologi yang dimediasi pesan, atau sistem simbol, dan ini yangb biasanya kita sebut sebagai "Media." Sistem simbol (media) yang membawa pesan-pesan dengan cara sistem distribusi (teknologi) biasanya teks dalam buku dan panduan belajar, suara dalam gambar kaset audio dalam rekaman video, teks, suara, atau gambar yang membentuk sebuah teleconference.
Misalnya, Internet adalah teknologi, jaringan terorganisir komputer, besar dan kecil, dan pengguna yang terhubung dengan saluran telepon dari beberapa jenis; pesan yang dikirim di atasnya biasanya dalam media teks, meskipun mereka berada di video dan media audio. Dengan demikian, setiap teknologi dapat mendukung penggunaan berbagai media: cetak (kata-kata dan gambar), suara (suara dan musik), dan video (gambar, suara, gerak).


5.      Interaksi : Peran Instruktur
Seperti dalam semua pendidikan, peserta didik untuk berinteraksi dengan instruktur mereka agar mereka bisa bertukar gagasan dan informasi. Sifat dan tingkat interaksi yang akan dianggap tepat bervariasi sesuai dengan filosofi organisasi dan desainer mengajar, sifat materi pelajaran, kematangan siswa, lokasi, dan media yang digunakan dalam kursus.
Interaksi antara instruktur dan siswa akan didasarkan pada isu-isu dan pertanyaan ditentukan oleh desainer saja dan mungkin dilakukan secara nyata dengan menggunakan teknologi teleconference. Sementara teleconference memberikan interaksi yang sangat cepat, interaksi ini biasanya dalam grup. Di luar Amerika Serikat, bahkan hari ini, interaksi ini paling sering dicapai dengan cara komunikasi tertulis dengan tutor melalui pos. Seperti, tugas yang dilakukan oleh masing-masing siswa yang mengirim ke tutor pribadi mereka melalui surat. Tutor membaca, komentar dan mengembalikan tugas melalui surat kepada siswa, dan mungkin kemudian mendiskusikan melalui telepon atau bahkan secara langsung. Meskipun laju interaksi ini melalui surat mungkin lambat, itu murah dan memungkinkan untuk perhatian tingkat tinggi secara individual untuk setiap siswa.

6.      Menajemen dan Administrasi
Sejak pendidikan jarak jauh biasanya menggunakan teknologi yang mahal, dana yang dibutuhkan untuk menghasilkan program yang substansial dan manajemen harus mengalokasikan mereka di antara proposal yang bersaing. Administrator harus memastikan bahwa uang, tenaga, dan waktu dikelola sehingga program yang dihasilkan pada waktu dan berbagai tugas pekerjaan cocok.
Manajemen juga harus berpartisipasi dalam proses politik, membantu pembuat kebijakan untuk memahami potensi pendidikan jarak jauh, memperoleh dana dan membawa perubahan budaya organisasi yang diperlukan untuk mengakomodasi bentuk baru dari pendidikan.

7.      Lingkungan Belajar
Dalam setiap organisasi pendidikan jarak jauh, banyak perhatian harus diberikan kepada lingkungan belajar. Siswa dapat belajar materi kursus dan dapat berinteraksi dengan instruktur di tempat kerja mereka, di rumah, di kelas, di sebuah pusat pembelajaran, atau bahkan ketika mereka melakukan perjalanan. Untuk mengatasi masalah-masalah potensial, siswa harus sadar memperoleh keterampilan dan kebiasaan menjadi pelajar yang jauh efektif. Mereka harus, misalnya, menemukan waktu dan tempat di mana mereka dapat belajar sendiri dengan nyaman.

8.      Keterkaitan Elemen Sistem Pendidikan Jarak Jauh
Unsur-unsur yang kita telah diperkenalkan di atas-konten atau pengetahuan, teknologi komunikasi desain, interaksi, dan lingkungan belajar dan manajemen-sangat penting untuk semua organisasi pendidikan jarak jauh dan kursus. Bahkan dengan gambaran sepintas ini, harus jelas bahwa ada banyak saling ketergantungan di antara elemen-elemen ini. Misalnya, sifat yang tepat dari desain, teknologi komunikasi yang digunakan untuk penyampaian, dan interaksi tergantung pada sumber pengetahuan, kebutuhan siswa, dan lingkungan belajar dalam kursus tertentu. Pemilihan teknologi penyampaian tertentu atau kombinasi dari teknologi harus ditentukan oleh konten yang akan diajarkan, yang diajarkan, dan di mana pembelajaran akan berlangsung. Desain media pembelajaran tergantung pada konten, teknologi penyampaian, jenis interaksi yang diinginkan, dan lingkungan belajar. Semua ini akan dipengaruhi oleh kebijakan dan manajemen. Selanjutnya, perubahan salah satu komponen dari sistem pendidikan jarak jauh memiliki efek langsung pada semua komponen lainnya.

9.      Sistem Input dan Output


 















Gambar 1.2 Input dan Output Pendidikan Jarak Jauh

Cara lain untuk melihat keterkaitan antara komponen-komponen dalam sistem pendidikan jarak jauh adalah dengan menggunakan teknik umum dalam pemodelan sistem: melihat sistem dalam hal input dan output. Gambar 1.2 mengidentifikasi beberapa input dan output dari sistem pendidikan jarak jauh.
Semua faktor yang tercantum di kolom masukan mempengaruhi dalam beberapa cara variabel output yang kita telah terdaftar. Dalam beberapa kasus hubungan yang cukup langsung, seperti halnya dengan instruktur / tutor pengalaman dan kepuasan siswa peringkat. hubungan lain yang kurang langsung, seperti hubungan antara akses siswa ke sumber daya dan skor prestasi siswa.

10.  Tingkat yang berbeda dari Pendidikan Jarak Jauh dan Pendekatan Sistem
Program pendidikan jarak jauh dapat ditawarkan oleh lembaga dengan berbagai tingkat komitmen dan keahlian. Pendekatan sistem yang lebih mungkin ditemukan di lembaga-lembaga pembelajaran jarak jauh atau konsorsium dari program pada program atau unit tingkat. Sementara guru individu atau kelompok di unit dapat mencoba untuk menjadi sistematis, mengikuti pendekatan sistem total memerlukan lebih banyak sumber daya dan organisasi dari orang-orang ini telah tersedia. Akibatnya, program pendidikan jarak jauh terbaik lebih mungkin untuk diterapkan di tingkat kelembagaan atau konsorsium dari program atau unit tingkat.
Lembaga tradisional yang mencoba untuk menawarkan program pembelajaran jarak jauh biasanya menghadapi konflik organisasi yang signifikan, karena pendekatan sistem tidak\kompatibel dengan instruksi kelas tradisional dan cara instruksi tersebut direncanakan dan dikelola

F.     Pendidikan Jarak Jauh adalah Sebuah Perubahan
Pendidikan jarak jauh berarti bahwa siswa dapat memiliki akses ke lebih banyak dan lebih baik sumber belajar daripada di masa lalu. Siswa pedesaan dan dalam kota dapat mengambil kursus yang sebelumnya hanya tersedia untuk siswa di daerah pinggiran kota. siswa cacat dapat memiliki akses ke program yang sama seperti setiap orang lain-bahkan jika mereka tinggal di rumah atau dilembaga. Orang dewasa yang membutuhkan pelatihan khusus untuk peningkatan karir atau keterampilan dasar dapat mengambil kursus tanpa harus berada jauh dari rumah atau Jobs mereka saat ini. Siswa dapat belajar dari guru dan sesama siswa lain.
Sementara siswa akan memiliki lebih banyak kebebasan dan kesempatan, mereka juga harus memikul tanggung jawab lebih untuk mengelola pembelajaran mereka sendiri, dalam hal ketika mereka akan belajar, berapa banyak mereka ingin belajar, dan mencari informasi sebuah sumber. Beberapa siswa mungkin tidak bersedia atau tidak cukup terlatih untuk menerima tanggung jawab ini dan akan membutuhkan bantuan dalam membuat penyesuaian yang diperlukan dalam kebiasaan belajar mereka dan disitulah peran instruktur dan administrator untuk dapat menjadi tutor bagi siswa yang kesulitan.

BAB III
PENUTUP

Makalah ini telah memperkenalkan beberapa ide dasar tentang pendidikan jarak jauh dan mengusulkan bahwa model sistem adalah penting untuk kedua pemahaman dan praktek pendidikan jarak jauh. Poin utama adalah :
1.      Sebuah lembaga pendidikan jarak jauh, unit, program, konsorsium, atau kursus individu dapat dianalisis atau digambarkan sebagai suatu sistem. Sebuah sistem meliputi subsistem dari sumber pengetahuan, desain, penyampaian, interaksi, pembelajaran, dan manajemen. Semakin terintegrasi ini dalam praktek, semakin besar akan efektivitas organisasi pendidikan jarak jauh.
2.       Sebagai organisasi menjadi lebih memahami tentang manfaat mengadopsi pendekatan sistem total untuk pendidikan jarak jauh, akan ada di atas guru, peserta didik, administrator, dan pembuat kebijakan dan perubahan signifikan dalam cara bahwa pendidikan dikonseptualisasikan, didanai, dirancang dan disampaikan. Tidak sedikit akan membuka akses dan peningkatan kualitas.

DAFTAR RUJUKAN
Moore, M. y Kearsley, G. (1996) Distance Education : A Systems View Belmont, California: Wadsworth Publishing Company